KAPAN KEAJAIBAN TERJADI???

Saat aku duduk di kelas 4 SD aku sangat tidak percaya akan keajaiban dan kurasa berdoa juga tidak terlalu membantu karena pasti jarang akan terkabul. Lalu semuanya berlanjut di sekolah, suatu ketika guruku mengumumkan bahwa untuk praktek kesenian kami harus membawa alat musik sendiri dari rumah bisa pianika atau recorder (Seruling). Waktu itu anak-anak yang tergolong mampu pasti membawa pianika.

“Nanti Aku minta mama belikan pianika ahhh selain mudah memainkannya, suara dan nadanya juga bagus kalau recorder sudah harus repot nutupin lubangnya kalo gak pas suaranya nyaring gak jelas, juga banyak yang harus di perhatikan kalau pianikakan tinggal pencet aja”.

 Setibanya di rumah aku langsung meminta mamaku untuk membelikanku pianika tapi mamaku berkata.

“Beli recorder aja dulu ya, beli pianikanya kapan-kapan aja”

“Halllahhhh mama nihhh aku maunya sekarang”

“Kapan-kapannya mama pasti lama sekali aku maunya sekarang, nanti bilang papa”

“Anak ini gak bisa di bilangin baik-baik, terserah kamu aja deh, mau jungkir balik kayak apa pokoknya gak bisa beli pianikanya sekarang titik”

Yang aku ikirkan waktu itu hanya “mama jahat, pelit” tapi saat aku di ajak ke gramedia oleh pamanku aku sangat tak menyangka bahwa harga pianika akan semahal itu.

“Permisi pak, pianika yang itu harganya berapa?”

“Oooh itu Rp450.000 dek”

“Hmmm kalo yang itu?”

“Itu Rp350.000”

“Oooh ya udah makasih ya Pak”

“Apa mahal sekali harganya, sama dengan 150 kali uang sakuku, nabung 120 kali pun cuma bisa dapet yang Rp350.000, itu pun kualitasnya gak jelas, itu juga kalo bisa nabung utuh Rp3000 masak ia aku gak makan di sekolah, baru jam pelajaran ke 3 aja udah keroncongan”. Itu yang terlintas di pikiranku saat itu. Yang ku lakukan hanyalah menghitung dan berangan-angan punya pianika.

“Yahhh apa boleh beli recorder aja dulu deh, besok aku mau minta papa anterin aku ke gramedia lagi”

Keesokan harinya aku pergi bersama ayahku untuk membeli recorder dan. Saat pergi ke sekolah keesokan paginya seperti biasa aku dan teman-temanku berlatih dengan recorder, lalu dengan sombongnya temanku Dinar menyombongkan pianikanya, Dinar adalah anak kaya di kelas, dia hanya bergaul dengan teman yang dia anggap sederajad, sehingga dia hanya punya sedikit teman di kelasku

“Hari gini masih pake recorder, gak jaman”

Dia berkata sedemikian kerasnya di depannku dan di depan semua temanku

“Aku baru tahu lho kok bisa ada manusia kayak kamu, dasar anak kurang kasih sayang”

“Biarin aja, aku ni berkelas gak kayak kalian udah tergolong menengah, kebawah lagi”

Tangan ku serasa ingin membunuhnya saat itu juga, tapi karena aku lihat teman-temanku yang lain mereka tidak mau meladeni perkataannya dinar jadi kusimpan saja amarahku dalam hati dan berharap luka  hati ini bisa disembuh oleh waktu, setelah kejadian itu aku selalu kesal melihat wajahnya yang suka pamer, untung ada temanku Budhi dan Yudha yang selalu bermain denganku jadi rasa kesalku sedikit memudar, Budhi adalah anak baru di kelasku dia pindahan dari jakarta dan yang ku herankan adalah

“Bud kamukan anak orang kaya tapi kok gak berteman ama Dinar, malah milih berteman ama aku sama Yudha”

“Aku gak suka ama dia, dia cewek yang bawel, terus suka pamer”

“Oooohh”

Ternyata ada juga ya orang kaya kayak begini, aku kira semua anak orang kaya itu sama aja. Pemikiranku langsung berubah setelah bertemu dengannya kukira sombong itu identik dengan kaya, ternyata tidak juga malah aku sangat akrab dengan Budhi.

2 minggu telah berlalu dan aku pun sudah tidak menaruh harapan apapun untuk bisa dapat pianika, sore itu aku terpanah melihat warna langit. Warnanya begitu indah tanpa sadar sudah 10 menit aku melihat itu sampai mentari terbenam, lalu ibuku menghampiriku membawa selembar formulir pendaftaran untuk lomba menyanyi di gereja.

“Ndre mama daftarin kamu ikut lomba nyanyi ya???”

“Tapi ma kalo gak menang gimana???”

“Gak papa yang enting dari wilayah kita ada yang ngewakilin untuk ikut lomba, gampang di hafal kok lagunya”

“Ia dehhh…”

“Nih tanda tangan di sini”

Lomba di adakan 1 minggu lagi, untung saja Ibuku bisa mengajariku bagaimana cara menyanyi yang benar jadi aku tidak terlalu kebingungan.

Saat hari H aku sangat gugup sekali ini juga pertama kalina aku ikut lomba menyanyi, dan aku berharap setidaknya bisa dapat juara 3 sebenarnya juara harapan juga gak apa-apa sihhh tapi di lomba ini gak ada juara harapannya hanya ada juara 1,2 dan 3, dari 45 peserta dan aku dapat no urut 14 tapi ibuku berkata.

“Menyanyi saja sesuai yang kita latihan, gak menang juga gak papa kok,ingat kamu kan disini menyanyi untuk Tuhan bukan untuk menang”

Sepertinya Ibuku sangat mengenal diriku, dan ia selalu menyemangatiku bukan untuk menang tapi untuk memberikan yang terbaik. Semangat itu sangat membantu ku jadi aku bisa tenang dan tidak gugup. Saat MC  telah menyuruh nomor 13 untuk naik ke atas panggung rasa gugup ini seperti tidak tertahankan jantungku berdebar dengan sangat cepat. Ketika aku naik ke atas panggung kaki ku gemetar dan rasanya sulit untuk bernafas tapi aku berusaha tenang aku mengambil nafas panjang dan mengingat apa saja kekuranganku saat latihan, akhirnya aku selesai membawakan lagu “KASIH” sungguh lega rasanya setelah menunggu sekitar 3 jam akhirnya juri mengumumkan pemenang dari juara ke 3. Aku hanya berpikir untuk pulang karena banyak anak yang suaranya merdu sekali.

“Ma pulang yuk aku capek”

Tapi ibuku berkata, “Jangan menyerah dulu sebelum ada kepastiannya, dengar aja dulu siapa pemenangnya”

Jadi aku menunggu pengumuman siapa yang menang, sebenarnya aku pun masih berharap untuk menang, saat Juri mengatakan

“Juara ke dua jatuh pada no undi 14”

Wahhh aku senang bukan kepalang, dengan sangat senang dan bangga aku naik ke atas panggung. Dan ketika juri menghampiriku memberiku hadiah. Aku tidak pernah menyangka bahwa hadiah ku salah satunya adalah pianika. Aku sangat bersyukur dan aku tahu bagaimana rasanya keajaiban itu, keajaiban itu bukan tahayul tapi kentaan saat aku pecaya, berdoa dan berusaha. Ternyata hal yang di sebut dengan keajaiban itu nyata, aku sampai kehabisan kata bagaimana cara bersyukur pada Tuhan ia memberiku sesuatu dengan cara yang belum pernh aku duga sebelumnya.

Hari minggu keesokan harinya aku ke gerja dengan penuh suka cita dan syukur karena Tuhan sangat baik padaku, dan akhirnya saat Ulangan praktek untuk kesenian aku bisa memainkan ianikaku bersama Budhi dan Yuda.

 TERNYATA KEAJAIBAN ITU NYATA…

Penulis : Andreas Bryan Wagey

SMAK St.Yoseph Denpasar

About smaksanjose

SMA Katolik Santo Yoseph Denpasar Bali Indonesia
This entry was posted in ARTICLE, NUANSA CINTA, OPINI. Bookmark the permalink.

5 Responses to KAPAN KEAJAIBAN TERJADI???

  1. andreas says:

    @All : bagaimana menurut kalian ceritaku bagus ????

  2. Firman S says:

    Bagus bagus…..😀
    cerpen pengalaman pribadi bisa d hayati alna,
    I believe miracles

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s