INEM OH INEM

Sri Inem Putri Ayu….”
“Hadir, pak!” sahut Inem sambil mengangkat tangannya.
“Nem! Inem! Mana teh saya?!” teriak seseorang yang duduk di pojok paling belakang. Guru melanjutkan mengabsen setelah beberapa detik melotot pada si empunya suara.
“Sebentar, Nyonya. Lagi nyari gula!” sahut teman di sebelahnya, lalu tertawa kecil.
“Sabar  sabar ” rintih Inem dalam hati.
Perlakuan melecehkan seperti itu sudah sering dialami Sri Inem Putri Ayu, siswi kelas 1 SMA Smart Group, Jakarta. Inem, yang 900% asli gadis dusun di suatu desa di Jawa Tengah itu nampaknya menjadi bulan-bulanan di lingkungan ibu kota, tempat tinggalnya yang baru. Ia sendiri tak terlalu enjoy hidup di kota besar ini. Ya, semua terasa aneh baginya. Mulai dari udara, suasana, hingga pergaulan. Meski sudah di Jakarta selama dua tahun, Inem tidak
bisa masuk ke lingkugan pergaulan teman-temannya yang serba modern dan maju. Dulu, ia tinggal di desa yang serba tenteram, hijau, dan sederhana. Wajar dia bingung ketika begitu naik kelas tiga SMP langsung melesat ke ibu kota. Tapi, faktor utamanya bukan itu. BAPAKNYA! Bapaknya kelewat bangga dengan kebudayaan Jawa dan dia mengharuskan anaknya, Inem, untuk mencintai dan melestarikan budaya, seperti lagu-lagu Jawa Tengah, tari-tarian, dan

kesenian lainnya. Bapaknya melarang keras sesuatu yang modern masuk ke jiwa puterinya; bahkan HP pun dilarangnya.
Awalnya Inem juga bangga belajar menari Jawa. Ia merasa telah ikut berperan dalam melestarikan budaya Jawa. Tapi karena faktor pergaulan dan terlalu sering diejek sebagai ‘orang udik’ oleh teman-teman sekolahnya, dia jadi berpikir, jangan-jangan tarian Jawa memang jelek, kuno, dan kampungan. Ia mulai memperhatikan tarian teman-temannya di panggung pensi sekolah. Menurut perasaannya, tarian yang ia bawakan tak kalah indah, tetapi mengapa tak ada tepuk tangan menyambutnya seperti ketika ia menari 17-an di desa? Yang ada malah teriakan “Huuuuu…” dan “Turun! Turuuun!” Ia benar-benar malu dan malas menari lagi. Ia bahkan tak lagi mencintai kesenian daerah yang selama ini ditekuninya.
Kepahitan lain adalah soal nama. Dulu di desa ia tak merasa nama “Inem” sebagai nama yang memalukan. Biasa saja. Tapi di Jakarta, karena teman-teman selalu mengejek namanya, ia jadi jengah sendiri. Rasanya ia ingin lari dan ‘angslup’ ke dasar bumi setiap kali namanya disebut.
“Bu, kenapa, sih namaku Inem?” tanyanya geram sambil membanting tasnya.
“Lha lha lha  Nduk, namamu itu uapik’e
pol! Terkenal! Ojo mbok ganti!” kata ibunya di meja makan menyesap teh tawar hangat.
“Terkenal jeleknya. Lagian cuma di Jawa!”
“Jarene sapa? Di sini kan juga terkenal, Nem!”
“Iya! Sebagai pembantu!”
“Lho, pembantu sukses lho Nduk. Inem itu pembantu yang akhirnya jadi nyonya besar, menikah sama bos-nya yang punya pabrik ini-itu. Si Inem itu akhirnya jadi konglomerat,” jelas ibunya. Nampaknya nama Inem diberikan kepadanya karena bapak ibunya terinspirasi oleh film “Inem Pelayan Seksi” yang menjadi box office di tahun ’80-an
“Nem, bersyukur dikasi nama sama ibu-bapakmu ini!” bentak bapaknya yang muncul dari kamar. “Susah lo, mikirin namamu. Untung waktu itu ada film yang bagus tentang si Inem.”
“Bapak juga! Kenapa sih kita ga bisa sedikit modern aja? HP temen-temen sekelas Inem udah canggih-canggih! Blekberi, Aipon, nah, Inem? HP 300ribuan aja ga dibeliin!”
“HP ‘kan nggak begitu penting, Nem. Bersyukur di sini ada telepon rumah.”
“Wes to, Nem! Ganti baju sana! Bentar
lagi kita lanjutin latihan narinya bareng ibu.”
“Aduh, ibuuuuuuuuuuu!!! Zaman sekarang mana ada anak yang masih latihan nari tradisional?” balas Inem, “Tarian sekarang tu break dance, hip hop, yang musiknya musik barat atau Korea. Ga kayak tarian tradisional yang musiknya “ning-nong-ning-gong, ning-nong-ning-gong”! Inem males, ah!”
“Lha, biasanya kamu semangat kalo taksuruh latihan. Kenapa to?”
“Inem dah bosen, Bu. Daripada nari tarian yang kuno gitu, Inem mau nari yang zaman sekarang. Kayak break dance atau hiphop.”
“Nem, tarian kuno yang kamu bilang itu malah jauh lebih keren dari yang kamu sebutin tadi,” kata bapaknya. “Tari modern sudah ada di mana-mana. Kalau kamu pergi ke luar negeri dengan tarian tradisional, kamu pasti dikeploki dan ngerasa bangga, nggak cuma sama diri sendiri, tapi juga bangga sama daerah tempat kita dilahirkan dan dibesarkan.”
“Bapak aja kerjanya cuma ngojek! Gimana caranya ke luar negeri?”
“Lho, makanya kamu sekolah yang pinter, terus belajar menari supaya dapat beasiswa.”
Inem diam sesaat, lalu mengambil tasnya yang dibanting. “Udah! Pokoknya Inem ga mau!” bentaknya sambil masuk kamar.
“Pak, coba kamu kasi si Inem HP yang 300ribuan. Siapa tahu dia seneng.”
“Tapi, Bu. Tanpa HP, kita sudah bisa menelepon ke mana saja.”
“Coba pikirkan perasaan Inem sedikit, Pak.”

“Nem! Mau tidur sampai kapan?” bentak bapaknya.
“Aduh, Pak… hari Minggu ‘kan libur…” keluhnya.
“Bangun, Nak. Bapak beliin HP lo. Tiga ratus ribu harganya.”
Mata Inem langsung melotot, bangun dari tidurnya. “Serius, Pak?!”
“Jangan dipakai sembarangan ya.”
“Iya, Pak. Makasih, Pak.”
Inem bangga bukan main saat memegang HP pink pemberian bapaknya. “Cihuuu…aku jadi manusia modern sekarang. Semoga temanku tak mengejekku lagi,” seru Inem dalam hati. Di hari pertama ia dibelikan HP, jari-jarinya langsung menekan tombol-tombol yang ada di HP. Ibu dan bapaknya pun bahagia melihat puteri mereka satu-satunya itu senang.
Keesokan harinya, Inem berangkat ke sekolah dengan bangga dan girang. Saking girangnya, selama perjalanan ia senyum-senyum sendiri, tidak peduli meski banyak orang melihatnya. Sesampai di kelas, dia duduk, dan mengambil HP-nya dari saku roknya, lalu memencet-mencet tombol HP. Teman-temannya yang melihat kaget dan menghampiri tempat duduk Inem. “Wah, Nem! Loe beli HP ya?!”
“Iya, dong! Tiga ratus ribu nih!” jawab Inem bangga.
“Eh, eh, eh! Si Inem beli HP lo. HP Black & White, harganya 300ribu perak!” teman-teman lain berebut melihat HP Inem, lalu meledaklah tawa mereka.
“Black & White? Ini kan HP Nogia,” kata Inem setengah bangga, merasa dia lebih tahu merk HP itu.
“Nem, Nem… Black & White tu hitam putih, intinya kagak berwarna!” ejek temanya.
“Yah, cocok sih, buat HP pembantu. Hahaha!”
“HP 300ribu itu emang udah mahal buat pembantu ya!”
Lalu, HP Inem pun menjadi sasaran rebutan.
“Wah, kosong. Gak ada nomor teman. Kamu tak punya teman ya Nem! Hihihi…mau ber-HP sama setan?!”
Meledak lagi tawa mereka. HP berpindah tangan.
“Wah, pulsanya cuma dua ribu rupiah!”
Tawa lagi. Lebih menggelegar. HP berpindah tangan.
“Hallo…hallo…iya…saya tukang urut. Ibu mau diurut?”
Tawa lagi, HP pindah tangan, tawa dan tawa. Semuanya bernada ejekan.
Hati Inem seperti disayat pisau, dilindas ban truk, dibom, ditembak… atau bahkan lebih parah. Air mata Inem menetes. Olok-olok yang menyakitkan itu baru berhenti saat bel berbunyi.
“Ya Tuhaaan…kehidupan modern tak memberi ruang bagiku,” rintihnya. Sejak peristiwa itu Inem bingung, apakah ia akan mati-matian menjadi manusia modern walaupun harus mengorbankan segalanya, atau ia harus tetap pada kesederhanaan nilai-nilai tradisi seperti yang diajarkan orang tuanya.

About smaksanjose

SMA Katolik Santo Yoseph Denpasar Bali Indonesia
This entry was posted in CERPEN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s