Memulai Lembaran Baru

By Andreas Bryan wagey
 
Di suatu siang aku sedang berdoa Rosario di depan patung Bunda Maria di kapel. Berharap dapat melupakan semua luka yang ada di hatiku, Biara ini adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa berusaha menyembuhkan luka di hatiku sudah berjuta-juta kali kejadian itu aku hapus namun selalu teringat lagi olehku, Aku merasa Tuhan tidak adil menimpakan semuanya ini kepadaku. Setiap kali aku berdoa aku mohon untuk dapat melupakan semuanya namun sekeras apapun aku berdoa semua yang Ku alami 35 tahun yang lalu itu melintas di kepalaku tidak ada satu pun yang terlupakan olehku. Aku yang dulu saat berusia 17 tahun sungguh bahagia menikmati masa remeja ku. Namun semuanya berubah saat Orang tuaku memaksaku menikah dengan seseorang yang tidak ku cintai. Aku menentang perjodohan ku itu mati-matian. Orang tuaku juga tidak memasukkan aku ke perguruan tinggi karena pria yang akan menikahi ku sangat kaya walaupun begitu hatiku tidak memiliki rasa apapun padanya.
“Tapi Ayah aku tak mencintainya biarkanlah aku memilih pilihanku” Tapi Ayahku malah membentak aku
“Masa bodoh tentang cinta nanti juga kamu akan cinta padanya”. Untuk pertama kali ini aku tidak menuruti apa kata Ayah, Ayahku langsung menamparku dan mengunci aku di kamar.
“Kamu keterlaluan tidak tahukah kamu keluarga kita sekarang sedang sekarat perekonomiannya kau boleh keluar kalau kau sudah memikirkan perbuatanmu ini”. Aku menangis sambil berdoa cuma itu yang dapat aku lakukan sampai aku tertidur dan bangun entah kenapa di tengah malam, hatiku serasa berbisik untuk pergi tidak akan aku biarkan aku satu ranjang dengan orang yang tidak kucintai. Malam itu aku kabur lewat jendela, tidak membawa Hp tapi hanya dompetku yang berisi Rp1000
“Tapi uang segini hanya cukup untuk berapa hari?”
Pada akhirnya uangku habis, aku terus berjalan kemana hatiku membawaku, menjadi gelandangan selama 2 tahun hidup dengan belas kasih orang.
Walaupun Orang tuaku mencariku aku selalu menghindari mereka, karena tidak dapat menemukanku akhirnya pernikahanku batal. Sampai suatu ketika aku bertemu dengan tante yang mengajakku bekerja dengannya.
“Hei kau bodymu lumayan, wajahmu juga cantik bagaimana kalau kamu ikut bekerja denganku, pekerjaan ini nggak makan banyak tenaga kok dan menghasilkan uang banyak”.
Di pikiranku saat itu hanyalah aku mau kerja, menghasilkan uang dan bisa hidup dengan layak, tanpa pikir panjang aku hanya bilang “Ya saya mau” “Nahhh gitu donk gadis pintar ayo ikut aku”.
Wanita itu menyuruhku masuk ke mobilnya yang mewah dan membawaku ke salon mendandaniku sampai cantik mengajakku belanja seharian sehingga aku bertanya “Pekerjaan tante apa kok kayaknya enak banget?”
“Ya Ia lah, pokok nya kamu nggak akan menyesal bekerja denganku”
Lalu wanita itu membawaku ke sebuah kafe, dia menyuruhku memaki pakaian yang terbuka dan perasaanku makin tidak enak mendengar suara jeritan perempuan di suatu kamar
“Ahhh mungkin itu……???”
“Nihhh kamarmu masuk aja”
Karena terpaksa akhirnya aku masuk, tapi wanita itu mengunci aku dari luar setelah aku masuk aku langsung mencari jendela untuk kabur tapi tidak ada, aku menangis karena sadar ini adalah tempat PSK. 1 jam aku duduk ketakutan di kamar itu lalu aku mendengar suara wanita tadi dengan suara seorang pria.
“Nihhh uangnya dia ada dikamar berapa?”
“itu no 134 nih kuncinya”
“Bohay nggak bodynya?”
“Udah lihat aja sendiri, puas deh”
Jantungku berdetak tidak karuan saat mendengar suara pintu yang terbuka, pria itu masuk dan mendekatiku dibukanya kancing kemejanya satu per satu dan mendekapku aku berteriak sambil menangis.
“Toooolooongg”
“Dasar bodoh siapa yang bisa mendengarmu, kamu dan aku akan bersenang senang bersama ok hahahaha”
Tapi aku tidak mau bersetubuh dengan pria bejat ini  jadi kutendang keras selangkangannya sampai dia kesakitan untung kamar itu belum dia kunci, aku langsung berlari kabur, wanita tadi menyuruh body guardnya mengejarku. Tapi aku terus berlari sekencang-kencangnya dan bergelantungan di sebuah truk seperti orang gila, tapi bagiku yang penting aku lolos dari mereka. Aku berjalan di jalanan dengan baju yang terbuka seperti seorang pendosa, sungguh kelu hatiku sampai aku berjalan menuju tempat razia polisi
“Dengan pakaianku yang begini aku pasti dikira seorang PSK”
Namun tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku tidak mengenal pria ini namun Ia hanya berkata.
“Ayo ikut aku makan malam”
Saat sudah kulihat wajahnya ternyata Ia sangat tampan. Ternyata dia juga hanyalah seorang penganggur. Aku di ajaknya makan bakso di pingir jalan, dan bertanya tentang hidupku.
“Heiii wajahmu tadi pucat sekali saat melihat ada polisi”
“Aku tahu kau pasti mengira aku ini PSK, tapi tidak”
“Ia aku percaya kok”
Dan karena penasaran aku bertanya tentang orang tuanya
“Heiii Orang tuamu nggak marah aku ikut ke rumahmu?”
“Sebenarnya aku ini yatim piatu aku keluar panti untuk merantau”
“Ooo maaf”
“Nggak papa kok”
“Nah ini dia tempatnya”
  Walaupun tempat kostnya ini kecil tapi lebih baik dari pada aku harus tidur di kolong jembatan. Di rumah ini hanya ada 1 kamar, tapi dia malah tidur di ruang tamu.
“Sudah kamu tidur di kamar saja”
“Ooo ia maaf ya merepotkanmu”
“Nggak kok, ngomong-ngomong namamu siapa kitakan belum kenalan?”
“Ohhh ia namaku Anna”
“Namaku Yosua”
       Selama 1 tahun aku dan Yosua hidup bersama, hingga pada suatu hari Yosua menyatakan perasaannya padaku. Akupun sebenarnya menyukai Yosua. Kami hiup bersama sebagai satu keluarga dan Tuhan memberikan kami satu orang anak, ditambah lagi akhirnya Yosua dapat pekerjaan dengan penghasilan lumayan. Sungguh aku sangat bersyukur pada Tuhan. Namun ternyata suamiku yang sangat aku cintai itu pingsan di kantornya aku sungguh kaget, dan membawanya ke dokter, ternyata Yosua menderita penyakit kanker otak stadium3 sungguh hatiku ini rasanya tersayat mendengar dokter berkata dimikian. Beliau berkata kita hanya bisa mengharapkan keajaiban. Sesampainya aku di rumah aku berkata dalam hati.
“Tuhan engkau tidak adil, apa lagi yang ingin Kau berikan padaku, Aku sudah tidak sanggup lagi”.
Anakku yang berumur 7 tahun itu menghampiriku dan berkata.
“Ma… Papa dimana?”
Air mataku langsung mengalir sehingga anakku pun ikut-ikutan menangis, karena melihat wajah ibunya yang sedih. Lalu kugendong anakku itu dan berkata.
“Papa lagi kerja sayang jangan nangis ya”
Entah apa anakku tahu atau tidak tapi dia malah semakin keras menangisnya, kemudian kucium dahinya berkali-kali
“Alex lihat mama, semuanya akan baik-baik saja percaya sama mama kita akan kumpul bareng papa lagi ya”
Akhirnya anakku itu berhenti manangis. Untunglah biaya suamiku masuk rumah sakit sudah di tangani oleh asuransi namun tak lama setelah itu penyakitnya semakin parah, aku mengajak anakku melihat Ayahnya.
“Pa ini Alek pa”
Anakku berlari menuju tempat tidur Ayahnya. Suamiku berpura-pura sehat, padahal kanker itu sudah menjalar ke matanya.
“Pa kapan kita bisa mancing lagi?, nanti kita pergi sama mama ya”
“Ia sayang nanti kita akan pergi memancing bersama, sabar ya”
Aku tak dapat lagi membendung air mataku aku langsung pergi dari kamar itu agar Alex tidak melihatku menangis. Saat waktu berkunjung habis Yosua menggenggam tanganku dan berkata.
“Kuatkanlah hati anak kita kehidupannya sudah tidak akan mudah”
Setelah itu aku menganggukan kepalaku, tapi Tuhan sudah memanggil suamiku aku langsung tersungkur dilantai, Alex yang melihat kejadian ini sangat panik dan hanya bisa menangis akhirnya dokter dan suster datang menyadarkanku dan menenangkan anakku. Beliau menyuruh aku dan anakku pulang dan meyiapkan upacara pemakaman syukurlah semua itu di tanggung oleh pihak kantor. Karena kesulitan ekonomi terpaksa kutitipkan anak kesayanganku itu di panti, untunglah anakku dapat mengerti.
“Ma alex ngerti kok, nggak papa sampai kapanpun mama adalah mama kandung Alex dan Alex tidak akan pernah lupa sama mama”
Dia berkata seperti itu dengan begitu polosnya Air mataku kembali mengalir kucium lagi dahinya.
“Benar sayang mama akan selalu sayang sama Alex. Selamanya”
Setelah itu aku berjalan tanpa arah dan tujuan lagi. Tapi kemudian aku serasa seperti mendengar suara paduan suara dari sebuah gereja aku masuk ke gereja itu. Saat aku berdoa disana aku merasa ada sedikit damai dalam hatiku kulihat salib itu dan membayangkan betapa menderitanya Yesus saat di kayu salib lalu aku sadar semuanya ini belum seberapa dari yang di alami oleh Yesus. Lalu aku berusaha bergabung dengan Biara di gereja ini dan setelah bergabung aku memberikan diriku seutuhnya hanya untuk tuhan dan sesama. Di usiaku yang sudah tua ini di dalam biara ini, luka batin karena masa laluku yang dalam mulai kering, aku juga selalu merasa suamiku selalu mengawasi aku dari surga. Anakku Alex sudah dewasa dan mandiri sungguh lega hati ini, yang kulakukan dibiara ini sekarang hanyalah berdoa, melayani Tuhan juga sesama dan menunggu suamiku menjemputku.

About smaksanjose

SMA Katolik Santo Yoseph Denpasar Bali Indonesia
This entry was posted in CERPEN and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to Memulai Lembaran Baru

  1. wartalena_irene_fratz_10B says:

    lumayan, cuman gambarnya kurang bagus, dan nggak ada page layout nyaa.. thx..

  2. andreas says:

    sebenernya aku salah naruh gambar
    Thanks ya buat sarannya😀

  3. claudia says:

    yaaaa, ampunnnn!!!!
    bagus banget, ndree!!!!!!!

  4. Jhoe says:

    kalau kalian mau ikutan nulis boleh aja, km bisa hubungi Pak yohanes

  5. andreas says:

    pak mereka ni temen-temen SMP ku🙂

  6. andreas says:

    thanks ya clau😀

  7. doni don don says:

    wew. sedihh ……………….. tapi gak nangis … hehehehehehehe………………

  8. Yose says:

    Like this story🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s